[sambungan part 1]
Nak,
Dalam menjajaki usia dewasa, hormon-hormon
tubuhmu mulai berfungsi
Hal itu menjadikanmu labil
Disaat seperti itu, engkau penasaran
terhadap setiap hal
Mengenai asal-usul kehidupan dan tujuan
manusia
Mereka menyebutnya 'pencarian jati diri'
Engkau akan mudah terpengaruh, labil
Pada idola, pada sesuatu yang ekstrim,
sesuatu yang eksentrik
Rentan terhadap pembangkangan, protes
dan pemberontakan
Engkau mulai mengidentifikasi diri
Engkau mulai mengekspresikan diri
Menegaskan identitas
Engkau akan mencari sosok inspirasi sesuai orientasi
kepribadianmu
Bergabung dengan interest grup
Engkau mulai berpikir kritis dengan logika
Engkau akan mengagung-agungkan liberalisme
dan idealisme
Tapi dalam kondisimu yang labil itu Nak
Engkau akan melihat gerombolan-gerombolan manusia yang rutin memasuki gedung ibadah
Tapi pada saat yang sama, tatanan masyarakat
tetap kacau
Korupsi, kriminalitas, kemiskinan ada
dimana-mana
Benar, gerombolan-gerombolan itu tidak menjalankan
ajaran agamanya
Justru menentangnya
Fakta itu mendorongmu menarik diri dari
gerombolan itu
Kau pun mulai mengkritisi praksis agama
Karena agama telah dijadikan sebagai
'reality denial' (penyangkalan realitas) bagi kaum tertindas
Dijadikan alat bagi penguasa
Engkau akan menyaksikan praksis sistem pendidikan yang ibarat ‘jauh panggang dari api’
Sekolah-sekolah tidak berdaya mengentaskan
kebodohan
Anak sekolah justru belajar dari
bimbel-bimbel luar sekolah
Fakta itu mendorongmu mempertanyakan fungsi
sekolah dan departemen pendidikan, bahkan tugas guru-guru yang tiap semester disertifikasi
Engkau akan menyaksikan organisasi-organisasi pemuda dan kaum intelektual berubah menjadi intitusi
pencetak calon penguasa-penguasa selanjutnya
Sebagian besar kampus-kampus hanya mencetak robot berjubah
Mesin pencetak kertas kosong yang tidak
mewakili manusianya
Semakin banyak sarjana tapi ilmunya tidak banyak
berguna
Media-media digital dan cetak mencuci otak masyarakat
Menanamkan mindset bahwa wajah menua itu
jelek, kulit hitam itu jelek, tidak punya perabot mahal itu ketinggalan jaman
Media menanamkan konsumerisme dan hedonisme
Masyarakat hidup dibawah tekanan stress
Tidak lagi memahami esensi
Anak-anak dan orang dewasa menonton
film-film kekerasan dan pornografi
Hingga terakhir orang-orang dewasa berperilaku
seperti anak-anak
Sementara anak-anak berperilaku seperti orang
dewasa
Tempat-tempat perkumpulan remaja penuh dengan jargon-jargon kosong
Sebagian besar, anak-anak muda tidak tahu
mengerjakan sesuatu di rumah, lingkungan, ladang, sawah karena mereka anak-anak
kesayangan
Mereka tidak dibebani tanggung jawab selain
sekolah ‘baik-baik’
Walau di sekolah mereka hanya bermain HP,
tidur, merokok di belakang kelas, menghabiskan uang jajan di kantin, pacaran
dan melakukan hal-hal lainnya menunggu bel pulang
Sayang, mereka juga bahkan tidak tahu mereka
harus berbuat apa katanya
Mereka sudah terlalu jauh hanyut, tidak
sepenuhnya akibat tindakan mereka
Pulang sekolah, mereka berkumpul di
cafe-cafe pinggir jalan, mencari wifi gratis
Menghisap vape yang beraneka aroma
Tidak berbicara satu sama lain, mereka
sedang chatting
Sedang mengumpulkan uang dan membangun
kerajaan di dalam dunia virtual
Memakai headset dan mendengar lagu-lagu Jang
Laek
Sebagian ada di pusat-pusat perbelanjaan dan
pusat hiburan
Menunggu akhir pekan dan liburan, mengalami
demam ‘masturbasi budaya’
Berbondong-bondong menuju tempat-tempat wisata,
camping
Mengagung-agungkan estetika, mengabadikan
momen tanpa syukur saat menyampah dimana-mana
Fakta itu mendorongmu mempertanyakan manfaat
ibadah, peran orang tua, fungsi sekolah-sekolah, dan peran serta tokoh-tokoh
masyarakat.
Engkau akan menyaksikan oknum aparat yang
bermain kucing-kucingan bebas berkeliaran, senyam-senyum, media
mempertontonkannya
Kasus demi kasus yang merugikan negara,
tertimbun dan terlupakan tanpa penyelesaian yang jelas
Fakta itu mendorongmu mempertanyakan
penegakan hukum keadilan
Engkau akan menyaksikan para pemberi perintah mengobok-obok kas
negara, membongkar pasang kebijakan demi kebijakan, program demi program,
sebagian besar diantara kebijakan dan program mereka hanya mengatasi masalah
jangka pendek tapi menimbulkan masalah baru yang sifatnya jangka panjang yang
akan diwariskan pada generasi selanjutnya.
Fakta itu mendorongmu mempertanyakan masih
adakah warga yang masih peduli negara ini?
Engkau akan melihat gerombolan orang-orang
'gemuk' yang digaji mengurus negara setiap bulan hanya mampu mengurusi hal-hal
sepele, berdebat sepanjang waktu, menulis puisi-puisi tak berguna untuk negara,
berkelahi di gedung megah yang dibangun dari urunan masyarakat. Sebagian besar
ucapan dari mulutnya hanya omong kosong
Engkau akan melihat gerombolan orang-orang
yang begitu bernafsu menjadi pemimpin
Jalanan dipenuhi wajah-wajah tidak dikenal
Tiba-tiba muncul dengan janji yang tidak
pernah diminta berjanji
Kalimat yang terkesan seolah-olah lebih tahu
masalah
Seolah-olah hendak menyelesaikan masalah
Tanpa pernah orang tahu apa kemampuan dan
kinerjanya
Engkau akan menyaksikan sebagian masyarakat yang membuat kekacauan,
menghujat, membakar rumah ibadah agama lain, anarkis dan memaksakan agamanya
pada orang lain
Fakta itu mendorongmu bertanya apakah masih
ada pemimpin-pemimpin agama yang mengajarkan kebaikan dan kemanusiaan pada
umatnya?
Engkau akan melihat para orang tua yang seharusnya mengayomi dan
melindungi, berubah menjadi monster yang merusak anak-anak mereka
Fakta itu mendorongmu mempertanyakan moral
orang dewasa dan relevansi intitusi rumah tangga dalam pernikahan di jaman ini?
Itu semua adalah sebagian dari fakta-fakta
yang terjadi di muka bumi
Di negara ini, di lingkunganmu, bahkan dalam
dirimu sendiri, Nak
Lebih banyak yang 'rusak' dibandingkan yang
'bagus'
Engkau harus mampu melihat persoalan-persoalan
itu secara utuh
Melihat secara parsial, membuatmu emosional
dan bertindak ceroboh
Itu semua pasti akan kau hadapi
Bahkan fakta-fakta lainnya yang tidak kami
sebutkan di sini
Masih ada...
Gerombolan-gerombolan manusia, lembaga
pendidikan, organisasi-organisasi pemuda, kampus-kampus, media-media, remaja,
pemberi perintah, calon pemimpin, pemimpin agama, masyarakat, dan orang tua yang...
Tulus, jujur, peduli negara, berintegritas,
mendidik, memikirkan masa depan, mengerjakan bagiannya masing-masing,
benar-benar peduli, waras, mewujudkan masyarakat madani, mengayomi.
Untuk itulah perlu ayah dan ibu sampaikan:
- Jagalah dirimu senantiasa dalam kewarasan, tetaplah belajar, baca buku bagus
- Lakukan kebaikan yang kamu ketahui
- Jika ada yang perlu kau ubah, ubahlah dirimu sendiri terlebih dahulu
- Jika dirimu sendiri telah berubah, ubahlah keluarga kecilmu
- Jika keluarga kecilmu telah berubah, ubahlah kelompokmu
- Jika kelompokmu telah berubah, ubahlah lingkunganmu
- Seterusnya
Semua yang ada disini saat ini, adalah
titipan dari Sang Pencipta, Nak
Tugas kita hanya untuk mengamati, belajar, menjadi
manusia baik, memuliakan Pencipta, lalu kembali pulang
Jagalah itu senantiasa di dalam hatimu
Semua manusia adalah sama
Kepercayaan tempatnya di hati
Dan ingatlah, dalam perjuanganmu menjaga
kewarasan dan iman
Mereka yang merasa intelektual atau dianggap
intelektual
Berusaha menjauhkanmu dari agama
Mengatakan Tuhan telah mati
Mengatakan agama adalah candu bagi si miskin
yang malas dan tertindas
Membangun asumsi yang kelihatan rasional
untuk menyangkal Tuhan
Bahkan secara terang-terangan mereka akan
mengolok-olok Tuhan dengan memuja simbol-simbol demonik
Mereka menguasai semua media
Mempermudah mereka menyesatkan anak muda
yang labil
Organisasi terbesar di dunia, kesehatan, pendidikan,
ekonomi, teknologi
Melalui sistem pendidikan yang diseragamkan,
pemahaman asal-usul semesta kontradiksi terhadap yang tertulis dalam alkitab,
kontradiksi ini menuntun kaum intelektual mengesampingkan peran Tuhan sebagai
pencipta
Melalui media, teknologi, internet
Generasi muda diseragamkan dengan budaya pop, materialisme yang liberal dan hedon
Melalui hiburan, film, klip musik, seni, lirik
lagu
Generasi muda disuguhi hiburan yang menggantikan
moral/akal budi dengan perilaku binatang yang tak bermoral, tak bertuhan, tak
bernegara, dicekoki imajinasi tanpa batas, seks bebas, paganisme, okultisme
Melalui seminar-seminar, podcast, webinar,
quotes
Generasi muda diarahkan menjadi ateis,
individualis
Dengan filsafat yang tanggung (tidak
selesai, tidak lengkap, tidak utuh), teori evolusi, teori big bang, dan
teori-teori lainnya,
Generasi muda digiring untuk 'meragukan'
segala sesuatu: Tuhan, agama, negara, esensi manusia, masyarakat, cinta,
pernikahan, seks, bahkan eksistensi manusia itu sendiri
Mereka hadir sebagai idola yang seolah juru
selamat
Semuanya itu...
Sejak awal telah dinubuatkan
Bahwa dengan kehendak bebas, manusia mampu menciptakan
apa saja yang mungkin diciptakannya
Karunia yang diberikan sang Pencipta kepada
manusia itu sendiri
Mengikut Tuhan tidak mudah Nak
Dan untuk itulah kita diciptakan
Tetaplah sadar,
Tetaplah belajar,
Bekerja keras,
Percayalah,
Jaga pikiranmu dari relativisme
Kami yang mengasihimu,
Ayah dan Ibu
Image: cloudfront.net
