"Ambil ini"
"Ambil itu"
"Kerjakan ini"
"Kerjakan itu"
Anak-anak melihat contoh, bukan mendengar kata-kata.
Bukan karena mereka anak-anak, tapi karena begitulah tahap perkembangan pengetahuan manusia.
Kenyataannya, pada umumnya kita yang lebih tua kebanyakan berkata-kata;
"Ambil ini"
"Ambil itu"
"Kerjakan ini"
"Kerjakan itu"
Mungkin itu pengaruh budaya kita yang begitu ramah, dan sering berlebihan jadi sesuatu yang kita sebut 'kepo' dan suka 'ngurusi' orang, suka 'ngomong'...
Jaman terus mengalami kemajuan, mungkin kekepoan kita juga mengalami kemajuan, masih sering menanyakan sesuatu yang tidak begitu penting pada orang lain hanya demi agar terlihat ramah.
Kita (yang lebih tua) melarang mereka merokok, tapi kita merokok (bukan soal benar salahnya merokok, silahkan), atau kita melarang mereka merokok di sekolah, tapi di luar sekolah mereka melihat orang merokok, mereka bingung dengan aturan yang dibuat orang dewasa.
Dalam pandangan psikologi, sesuatu yang terlarang itu menimbulkan rasa penasaran bagi otak manusia, sehingga ada keinginan yang kuat untuk mencoba.
Sudah sejak dahulu kala kita seperti itu, beda rasanya melakukan sesuatu dalam keadaan was-was.
Selain rokok, seksologi juga demikian, di tengah masyarakat yang canggung pendidikan seksologi dan minim pengetahuan bahaya rokok, anak-anak menjadi rentan terjerumus.
Kita melarang mereka menggunakan gawai (hp), tapi kita menggunakannya.
Kita menyuruh mereka berperilaku moralis, tapi kita tidak menunjukkan sikap moralis.
Kita mengharapkan mereka bertumbuh dengan baik, tapi kita tidak konsisten mengawasi tontonan mereka dan informasi yang mereka konsumsi.
Dan yang paling darurat, bagaimana kita mendidik anak-anak kita mengenai perbedaan agama?
Sentimen kita terhadap agama membuat kita canggung, kaku, tabu, dan enggan membicarakan agama apalagi agama yang berbeda.
Bukankah tugas kita menanamkan pada mereka bahwa setiap agama memiliki kebenaran masing-masing dan tidak ada yang perlu dipersoalkan tentang itu?
Kelalaian kita ini menjebak anak-anak dalam paradigma sempit, memaksakan kebenaran agamanya pada orang lain atau mengintimidasi hingga level kontak fisik seperti persekusi dan penyegelan rumah ibadah.
Itulah beberapa contoh-contoh hilangnya keteladanan dari kita pada anak-anak.
Itu salah satu dari sekian banyak faktor penyebab anak-anak menjadi kurang ajar dan memberontak.
Kita orang dewasa, orang yang lebih tua, hanya bicara.
Tentu ada beberapa orang tua dan anak-anak yang mampu belajar sendiri.
Tapi yang menjadi masalah adalah ketika lebih banyak orangtua dan anak-anak yang tak mampu memberi teladan, kita semua harus menerima dampaknya.
Cepat atau lambat, ini hanya masalah waktu.
Sebagian beralasan karena anak kita mungkin tidak brutal alias alim, lantas kita kurang memberi perhatian terhadap isu-isu sosial.
Tapi alangkah baik jika kita semua bersinergi menjadi teladan dan pemerhati bagi anak-anak di sekitar kita, sesuai ketersediaan waktu dan kemampuan masing-masing tentunya.
.
.
.
Dame ma di hita !
"Ambil itu"
"Kerjakan ini"
"Kerjakan itu"
Anak-anak melihat contoh, bukan mendengar kata-kata.
Bukan karena mereka anak-anak, tapi karena begitulah tahap perkembangan pengetahuan manusia.
Kenyataannya, pada umumnya kita yang lebih tua kebanyakan berkata-kata;
"Ambil ini"
"Ambil itu"
"Kerjakan ini"
"Kerjakan itu"
Mungkin itu pengaruh budaya kita yang begitu ramah, dan sering berlebihan jadi sesuatu yang kita sebut 'kepo' dan suka 'ngurusi' orang, suka 'ngomong'...
Jaman terus mengalami kemajuan, mungkin kekepoan kita juga mengalami kemajuan, masih sering menanyakan sesuatu yang tidak begitu penting pada orang lain hanya demi agar terlihat ramah.
Kita (yang lebih tua) melarang mereka merokok, tapi kita merokok (bukan soal benar salahnya merokok, silahkan), atau kita melarang mereka merokok di sekolah, tapi di luar sekolah mereka melihat orang merokok, mereka bingung dengan aturan yang dibuat orang dewasa.
Dalam pandangan psikologi, sesuatu yang terlarang itu menimbulkan rasa penasaran bagi otak manusia, sehingga ada keinginan yang kuat untuk mencoba.
Sudah sejak dahulu kala kita seperti itu, beda rasanya melakukan sesuatu dalam keadaan was-was.
Selain rokok, seksologi juga demikian, di tengah masyarakat yang canggung pendidikan seksologi dan minim pengetahuan bahaya rokok, anak-anak menjadi rentan terjerumus.
Kita melarang mereka menggunakan gawai (hp), tapi kita menggunakannya.
Kita menyuruh mereka berperilaku moralis, tapi kita tidak menunjukkan sikap moralis.
Kita mengharapkan mereka bertumbuh dengan baik, tapi kita tidak konsisten mengawasi tontonan mereka dan informasi yang mereka konsumsi.
Dan yang paling darurat, bagaimana kita mendidik anak-anak kita mengenai perbedaan agama?
Sentimen kita terhadap agama membuat kita canggung, kaku, tabu, dan enggan membicarakan agama apalagi agama yang berbeda.
Bukankah tugas kita menanamkan pada mereka bahwa setiap agama memiliki kebenaran masing-masing dan tidak ada yang perlu dipersoalkan tentang itu?
Kelalaian kita ini menjebak anak-anak dalam paradigma sempit, memaksakan kebenaran agamanya pada orang lain atau mengintimidasi hingga level kontak fisik seperti persekusi dan penyegelan rumah ibadah.
Itulah beberapa contoh-contoh hilangnya keteladanan dari kita pada anak-anak.
Itu salah satu dari sekian banyak faktor penyebab anak-anak menjadi kurang ajar dan memberontak.
Kita orang dewasa, orang yang lebih tua, hanya bicara.
Tentu ada beberapa orang tua dan anak-anak yang mampu belajar sendiri.
Tapi yang menjadi masalah adalah ketika lebih banyak orangtua dan anak-anak yang tak mampu memberi teladan, kita semua harus menerima dampaknya.
Cepat atau lambat, ini hanya masalah waktu.
Sebagian beralasan karena anak kita mungkin tidak brutal alias alim, lantas kita kurang memberi perhatian terhadap isu-isu sosial.
Tapi alangkah baik jika kita semua bersinergi menjadi teladan dan pemerhati bagi anak-anak di sekitar kita, sesuai ketersediaan waktu dan kemampuan masing-masing tentunya.
.
.
.
Dame ma di hita !
