Enam Mei Dua Ribu Sembilan Belas
Begitu bunyinya kalau dieja
***

Sudah memasuki pertengahan bulan ke lima sejak menyelesaikan Pendidikan Profesi Guru di Universitas Negeri Medan.
Sebelumnya, selama PPG, saya berharap program Guru Garis Depan (GGD) dibuka kembali.
Namun, hingga kini belum ada informasinya.

***
Beberapa waktu lalu, ada teman yang menanyakan pembukaan GGD di akun KemenpanRB namun jawaban yang diperoleh tidak seperti yang diharapkan oleh para alumni SM-3T.
Terus terang, ada rasa kecewa dalam hati karena sebelumnya di dalam hati telah muncul berbagai pertimbangan-pertimbangan untuk mencoba merasionalkan pembukaan GGD.
Beberapa pertimbangan itu antara lain:

  1. Alumni SM-3T I hingga III telah diangkat menjadi GGD gelombang I.
  2. Berdasarkan poin 1 di atas, maka angkatan IV, V dan VI beranggapan akan mengalami pengangkatan yang sama, GGD gelombang II.
  3. Mengingat bapak Jokowi yang memberikan perhatian khusus terhadap daerah 3T.
  4. Kondisi di berbagai daerah 3T membutuhkan tenaga pengajar berpengalaman di daerah 3T dan berkapasitas karena disiapkan khusus melalui PPG.
  5. Program SM-3T dan lanjutannya, PPG sejak angkatan I hingga angkatan VI menelan anggaran yang tidak sedikit.
  6. Berbagai pertimbangan pribadi yang lain seperti usia dan harapan masing-masing peserta PPG.


***
Pada penerimaan CPNS tahun 2018 yang lalu, beberapa alumni maupun peserta PPG SM-3T yang sedang berjalan, turut mengikutinya. Alhasil, tidak sedikit yang lulus. Alumni SM-3T yang lulus terbantu sebanyak 100 poin oleh sertifikat pendidik pada SKB.

Namun kabar buruknya, saya sendiri tidak mengikutinya karena lowongan tenaga pendidik lulusan bergelar Sarjana Pendidikan (S. Pd) Teknik Elektro di Sumatera Utara, nihil. Saya belum tahu apa alasan pastinya mengapa propinsi Sumatera Utara tidak membuka penerimaan lulusan Sarjana Pendidikan Teknik Elektro yang mendidik di satuan pendidikan menengah kejuruan (SMK Teknologi).

Sementara di beberapa SMK Teknologi yang saya tahu sewaktu Praktik Mengajar di Lapangan (PKL) pada semester ke-dua tahun 2018, terdapat beberapa guru yang pensiun tahun ini (2019) di samping terdapat juga beberapa guru honorer.

Mungkin, ada alasan lain yang tidak saya ketahui, mungkin.
Saya tidak ingin menambah beban pikiran dengan berbagai asumsi. Kalau memang propinsi Sumatera Utara tidak membuka penerimaan guru SMK Teknologi, yasudah...

Kabar baiknya, pemerintah kembali membuka penerimaan CPNS di penghujung tahun 2019 ini dan saya tidak mengharapkan GGD lagi. Jika GGD buka, bagus. Jika GGD tidak buka, tidak apa-apa.
Justru bersyukur, dengan mengikuti SM-3T selama setahun, saya mendapat pengalaman unik. Sebagai bonus, mendapatkan kesempatan menjalani pendidikan profesi guru dengan pendanaan penuh bahkan dapat uang saku dari pemerintah selama setahun hingga memperoleh sertifikat pendidik dan gelar guru profesional. Terimakasih pak Menteri.

***
Selama lima bulan terakhir, saya mencoba konsentrasi belajar filsafat secara otodidak.

Berusaha menghubungkan titik-titik pengalaman pribadi secara filsafati. Ada kepuasan tersendiri yang membuat betah untuk menekuninya hingga sejauh ini.

***
Sebagai residu awal, setidaknya saya siap jika harus banting setir dari cita-cita saya selama ini. Saya mencoba membuka diri terhadap pengalaman-pengalaman baru yang sebelumnya jarang bahkan tidak pernah saya bayangkan.

Saat ini, ada tiga (3) hal signifikan yang saya tekadkan untuk dituntaskan dalam tahun ini jika Tuhan berkenan. Salah satunya sedang saya kerjakan, dua berikutnya sedang dalam tahap persiapan.

***
Kegiatan saya sekarang memang tidak terlalu menguras pikiran, namun menguras begitu banyak tenaga. Bagaimana tidak, mulai pagi pukul 08-09 hingga 17-18 selama 6 hari dalam seminggu demi target, ia tuntas dalam 2 bulan ke depan, amin.

Kegiatan kedua, dimulai pada bulan Juli hingga September dan kegiatan ketiga dimulai  bulan Oktober hingga akhir tahun.
Alhasil, saya jarang menulis sekarang. Hanya sekedar mendengar podcast materi filsafat dan sesekali membaca ebook.


***
Saya meyakini dua (2) hal, yang pertama; usaha tidak mengkhianati hasil dan kita (hanya akan) menemukan apa yang kita cari.

Hari kemarin dan hari esok adalah dua hal yang sama abstraknya, maka yang nyata adalah hari ini. 

Jika ada hari esok, maka ia tergantung seperti apa hari ini, pilihan terbaik adalah menjadi yang terbaik hari ini.