Tokoh dan pola aksi "People Power" mengingatkan saya pada 2 hal:
1. Demokrasi yang belum membumi, dan
2. Cara kerja otak manusia dalam teori "Triune Brain Model" Paul McLean.
***
Singkat cerita, bagian yang paling lambat berevolusi dalam tubuh manusia adalah otak reptil.
.
Secara anatomi, otak reptil bersifat agresif dan bertanggung jawab atas "sistem kepercayaan, mekanisme pembelaan diri dan mendominasi" (insting purba warisan dari nenek moyang kita; animisme, berburu dan dominasi) manusia.
.
Otak reptil akan teraktivasi ketika seseorang atau sekelompok manusia dirangsang dengan isu-isu kepercayaan (agama), dan jika rangsangan yang diterima tersebut bersifat mengancam, maka mekanisme pembelaan diri menyusul teraktivasi.
.
Kecenderungan alami ini yang dimanfaatkan oleh para tokoh politik yang haus kekuasaan (dominasi) dengan bantuan psikolog untuk memprovokasi insting seseorang atau sekelompok orang demi tercapainya tujuan politik. Inilah yang dimaksud Foucault "will to power".
.
Jika seseorang atau sekelompok orang ingin mengontrol atau memanipulasi kecenderungan otak reptilnya, mereka harus membiasakan otak neokorteks. Otak neokorteks berpikir dengan rasio atau pertimbangan pragmatis. Tindakannya selalu disetir oleh pertimbangan logis untuk meminimalisir dampak yang merusak.
.
Jika kita sepakat bahwa demokrasi dilahirkan dari proses berpikir yang panjang, maka dalam konteks kenegaraan yang demokrat, seharusnya demokrasi yang rasional harus didahulukan dari semua bentuk tindakan agresif yang instingtif. Tentu demokrasi dengan segala kekurangannya membutuhkan kontekstualisasi lebih lanjut.
.
Pun demikian kita tidak dapat menepis keadaan di negeri yang masih mengurusi urusan perut, bagaimana mungkin memaksa warga negara untuk menegakkan demokrasi yang konon katanya barang mewah dalam "teori kebutuhan" Maslow?
Ah, PR kita sebagai negara demokrasi masih panjang... sai horas ma...
