Budaya Batak akan tetap eksis selama unsur-unsurnya (idealisme - spritual, perennialisme, egaliter - totaliter dan patriarkis) mampu beradaptasi dalam era yang sedang berlangsung.
Sementara itu:
1. Descartes menuntun dunia memasuki era baru di mana rasio adalah satu-satunya sumber kebenaran (rasionalisme).
2. Hegel menunjukkan peradaban yang bertahan adalah peradaban yang paling rasional (dialektika sejarah).
3. Comte mengusulkan apa yang utama adalah apa yang faktual dan nyata (positivisme).
4. Charles Pierce dan Rorty memprovokasi masyarakat modern dengan orientasi hidup yang berasaskan manfaat (pragmatisme).
5. Thorndike dkk menemukan sebagian manusia belajar melalui proses pengalaman (behaviorisme).
6. Piaget menemukan sebagian manusia belajar melalui pemaknaan pengalaman (konstruktivisme).
Pengaruhnya terhadap Indonesia, khususnya Batak:
1. Kurikulum pendidikan Indonesia dilandasi pemikiran modern (positivisme, pragmatisme, behaviorisme, konstruktivisme), peluang baik untuk semakin modern-nya kaum akademisi Batak.
2. Faktor internal, Batak memiliki falsafah "hamoraon, hagabeon dan hasangapon", yang berpotensi destruktif (Hamoraon berorientasi kemakmuran, identik dengan kapitalisme. Hasangapon identik dengan hegemoni.). Falsafah ini yang mendorong orang Batak dalam capaian-capaian mereka.
3. Dalam lembaga tertentu, bahasa Batak dibatasi dengan berbagai alasan. Memicu berkurangnya intensitas penggunaan bahasa Batak bahkan tergantikan.
4. Kemajuan teknologi dan kebebasan informasi menghapus sekat-sekat sosial serta melipat jarak dan waktu, berhasil mengalihkan perhatian generasi muda dari budaya. Antusiasme generasi muda sebagai suksesor, dilemahkan.
5. Berkurangnya transfer budaya dari generasi tua kepada generasi muda karena semakin banyaknya generasi muda bergerak ke kota. Generasi tua meninggal satu per satu tanpa pengganti yang kompeten di bidang yang sama.
Sebagian besar anak muda yang pergi ke kota, kembali ke desa cenderung sudah kehilangan minat terhadap Kebatakan itu sendiri.
Sebagian yang menetap di kota, mengurangi penggunaan bahasa bahkan tidak menggunakan bahasa Batak.
Alhasil, generasi yang lahir di kota/perantauan cenderung tidak tahu berbahasa Batak, partuturan (silsilah), adat, dan hukum-hukum.
6. Masuknya agama Barat berhasil merombak hampir keseluruhan unsur Kebatakan. Agama Barat mewarnai ulang Kebatakan dengan idealisme Barat yang modern.
7. Seperti agama, pemikiran Barat berhasil "membaratkan" orang Batak dalam gaya hidup sehari-hari. Melampaui modernisme, bahkan postmodernisme yang bebas, individualistis, ekspressionis, pragmatis, sekuler, hingga hiperrealitas, telah begitu melekat dalam gaya hidup orang Batak jaman now.
Tidak sedikit tokoh masyarakat, orangtua bahkan akademisi yang gagal memberikan teladan dan didikan. Satu persatu, unsur-unsur adat Batak absen dalam upacara adat karena alasan kemudahan, kesederhanaan, efisiensi dsb sebagai bentuk semangat pragmatisme.
8. Sebuah kontradiksi, minimnya literatur Batak di era informasi menjadi kendala tersendiri bagi para peneliti.
9. Perangkap era transisi; kita terjebak di antara generasi tua yang berbudaya kental dan generasi muda yang minim budaya. Kemampuan kita mewariskan budaya dari generasi tua akan mempengaruhi utuh tidaknya transfer budaya generasi berikutnya.
10. Dll
Sejak abad -19, dunia Barat telah meninggalkan era modern yang kaku dan "gemar" menyeragamkan segala sesuatu menuju era postmodern yang "luwes", kritis dan plural, menjadi budaya mereka.
Sementara kita di Indonesia dan negara berkembang lainnya, baru saja bergumul dengan modernisme, sudah ditabrak oleh posmodernisme.
Kombinasi antara modernisme dan postmodernisme "berhasil" menggilas semua budaya lokal di berbagai tempat, termasuk budaya Batak.
Segala upaya yang kita lakukan saat ini untuk mempertahankan budaya Batak terkesan sebatas rutinitas yang miskin makna, oportunis dan dianggap mengekang.
Bukan tidak mungkin, suatu saat nanti Kebatakan tinggal sejarah dan dilakonkan ulang sebatas pertunjukan panggung.
Lalu bagaimana pendekatan atau langkah-langkah yang mungkin kita lakukan untuk melestarikannya?
Kembali lagi pada Hegel, anti dari suatu Kebudayaan yang "kaku" dan "idealistis" adalah pluralitas dan rasionalitas. Mau tidak mau, untuk melengkapi langkah-langkah pelestarian budaya yang telah terlebih dulu dilaksanakan, budaya kita perlu beradaptasi terhadap jaman. Di sinilah letak tantangannya.
Secara garis besar, langkah-langkah rasionalisasi yang bisa dilakukan berupa:
1. Pendataan ulang budaya yang masih eksis dan sudah hilang.
2. Kajian literatur (restrukturisasi dan revitalisasi organ yang masih berdenyut seperti Raja Adat, Raja Jolo, Raja Bius, dll, menyediakan format/panduan hidup beradat).
4. Uji rasionalitas (uji coba penerapan)
5. Evaluasi
6. Penerapan (tiap keluarga)
7. Pengawasan dan penetrasi (dukungan moral - materil)
8. Pengembangan
9. Kembali ke langkah 1.
Tentu itu semua membutuhkan ongkos yang mahal, tapi layak dicoba.
