Dalam pandangan subjektif saya, secara umum terdapat perbedaan pemikiran akademisi sebelum dan sesudah tahun 1980 di Indonesia. Pemikiran sebelum 1980 identik dengan modernisme dan pemikiran sesudahnya identik dengan postmodernisme.

Tentu itu semua dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti (1) dinamika kurikulum pendidikan Indonesia yang bernuansa modernisme, (2) kemajuan teknologi dan informasi yang menghapus sekat-sekat sosial, (3) budaya lokal Indonesia yang "ramah" dan (4) kondisi "pasca traumatik" penjajahan.

Setelah berproses dalam rentang waktu setengah abad, faktor-faktor tersebut "melemparkan" Indonesia pada iklim sosial seperti hari ini.

Dalam konteks moralitas, generasi tua "kerap" mengalami kendala ketika berurusan dengan anak muda. Konon katanya anak muda jaman sekarang susah diatur dan lemah daya juang.

Dalam konteks ekonomi, pengalaman "pasca traumatik" oleh penjajahan kolonialisme selama berabad-abad, menimbulkan kerinduan yang mendalam akan ketenangan dan kebebasan sebagai warga "sipil" di balik status "pegawai" yang dijamin oleh "negara".

Lembaga-lembaga pendidikan atau sekolah menjadi pabrik pencetak ijazah bagi para petarung yang berebut status "pegawai negeri".
Ijazah untuk kemudahan pengurusan kenaikan pangkat.

Dalam konteks budaya, keramahan kita terbukti di beberapa daerah memberi celah tergantikannya budaya lokal oleh budaya luar yang pop, keyahudi-yahudian, kearab-araban, kekorea-koreaan dan berbagai corak lainnya.

Tentu kita tidak bermaksud menyangkal perubahan, sebaliknya kita harus siap beradaptasi setiap saat dalam rangka melestarikan identitas kita yang sejati.

Perbedaan orientasi berpikir kaum akademisi Indonesia nyatanya memberi pengaruh signifikan dalam beberapa konteks seperti pendidikan, moral, ekonomi dan budaya.

Masa depan bangsa kita yang plural tergantung pada keputusan kita hari ini, apakah "menyerah" pada penjajahan budaya luar atau beradaptasi dengannya tanpa kehilangan identitas.

Jika memilih adaptasi, maka menjadi peka dan seimbang terhadap apa yang disebut oleh Deleuze - Guattari sebagai "mesin hasrat" atau "oedipus" sudah termasuk langkah yang tepat.