Belakangan ini, pemerintah menunjukkan perhatian serius terhadap pelestarian budaya karena budaya lokal terindikasi mengalami penyempitan ruang dan makna, dikhawatirkan semakin menyempit.
Bukti keseriusan itu, hari pendidikan nasional selama dua kali berturut-turut mengusung tema "menguatkan pendidikan, memajukan budaya".
Bicara mengenai budaya, memang "maol-mura".
Dibilang sulit, tidak.
Dibilang mudah, tidak juga karena tidak semua "memberikan" perhatian.
Sebagai pendidik, isu budaya menjadi perhatian serius bagi saya. Bagaimanapun juga, kita meyakini salah satu faktor pendukung keberhasilan pendidikan nasional adalah budaya.
Hari ini, pertarungan budaya dan simbol menuju klimaks.
Kita dapat menyaksikan budaya yang menang dan kalah.
Kita ini manusia terjajah sebenarnya.
Lihat saja bagaimana kita memaknai suatu brand, logo, institusi, musik, bahasa, busana, barang, bahkan ibadah and the lists goes on...
Kita menetapkan standar "bagus" atau "keren" terhadap segala sesuatu didikte (berdasarkan) oleh sistem. Sistem siapa? Barat, pop.
Namun sebelum bicara pelestarian budaya, terlebih dulu saya introspeksi; tradisi apa yang sudah saya pahami dan jalankan?
Saya sendiri belum "hadir" secara eksistensial sebagai individu Batak, baik itu dalam kesadaran maupun dalam pelaksanaan identitas Kebatakan
***
Sebagai budaya, Kebatakan kita akan tetap eksis selama unsurnya masih dijalankan.
Sebelum terlalu jauh hingga kajian pascakolonial dan pengaruhnya terhadap budaya;
Bagaimana budaya Batak tetap eksis kalau bahasa saya lebih Inggris? Bukan berarti tidak perlu bahasa Inggris.
Bagaimana budaya Batak tetap eksis kalau saya lebih paham mitologi Yunani Kuno dari sejarah Batak? Bukan berarti tidak perlu paham mitologi Yunani Kuno.
Bagaimana budaya Batak tetap eksis kalau saya lebih paham alur cerita Marvel Cinematic Universe atau DC Comic dari Dalihan Na Tolu? Bukan berarti tidak perlu paham MCU dan DC.
Bagaimana budaya Batak tetap eksis kalau saya lebih suka lagu pop Barat dibandingkan pop Batak? Bukan berarti tidak boleh suka lagu pop Barat.
Bagaimana budaya Batak tetap eksis kalau saya lebih paham filsafat Barat daripada Ruhut-ruhut Habatahon? Bukan berarti tidak perlu filsafat Barat.
Bagaimana budaya Batak tetap eksis kalau saya lebih tahu silsilah keluarga presiden daripada silsilah keluarga sendiri? Bukan berarti tidak perlu tahu silsilah presiden.
Bagaimana budaya Batak tetap eksis kalau agama tiap hari mendoktrin umat dengan tradisi pikiran Barat/Arab? Bukan berarti agama tidak boleh diterima.
Bagaimana budaya Batak tetap eksis kalau saya lebih suka jeans dibandingkan ulos? Bukan berarti tidak boleh suka jeans.
Yakin mau menggantikan budaya Batak dengan budaya lain?
Mencegah teori "gunung es" di mana setiap orang mengatakan "masih ada orang lain yang melestarikan budaya" nyatanya terbalik.
Kalau bukan kita yang melestarikan, lalu siapa?
Budaya Batak mati kalau hanya disusun rapi di perpustakaan sebagai capaian akademik tanpa usaha revitalisasi.
Sehingga dalam seratus tahun ke depan, meskipun anak cucu kita keturunan Batak, namun tanpa pelaksanaan, Kebatakan sejatinya telah lama "mati" di sini, di rumahnya sendiri dan kita yang membunuhnya.
***
Pada dasarnya, upaya pelestarikan budaya dapat disederhanakan dalam dua langkah, yaitu;
1. Sadar identitas (memahami posisi dan fungsi diri dalam struktur silsilah atau dalihan natolu).
2. Menghidupi identitas (menjadikan posisi dan fungsi tersebut sebagai dasar, arah dan tujuan hidup dalam tindakan sehari-hari).
Bukan maksud menggurui, namun seperti yang saya katakan di awal, mencoba membunyikan kembali teks lama.
Beberapa tindakan yang berikut dapat dilakukan sebagai usaha pelestarian budaya Batak; (1) pergilah ke pesta adat dan bawa keluarga, (2) wariskan tradisi pada anak, (3) pakai bahasa Batak baik dalam sehari-hari maupun dalam ibadah, (4) ketahui tarombo atau silsilah keluarga, (5) cari keluarga -- hula hula, dongan tubu dan boru, (6) cari bona ni pinasa atau kampungmu dan pulanglah sesekali, (7) beli produk Batak, (8) cantumkan marga, (9) pelajari dan buat resep khas Batak, (10) menulislah dalam bahasa Batak, (11) pakai busana Batak, (12) berceritalah dalam bahasa Batak, (13) pelajari sistem kehidupannya -- filsafat, umpasa, umpama, andung, gorga, tortor, tonggo, umpasa, umpama dll, (14) buatlah kajian ilmiah tentang Batak dalam rangka melestarikannya tanpa maksud untuk mengubahnya dan banggalah sebagai etnis Batak yang setera dengan etnis lainnya.
Dulu, ada Opera Batak, di mana sistem kehidupan dan nilai-nilai Kebatakan dikemas menjadi drama dan disimulasikan di depan khalayak ramai. Tujuannya untuk membumikan nilai-nilai Kebatakan itu sendiri dan menunjukkan kapan penggunaannya dalam dialektika sehari-hari. Sayangnya kini, setahu saya Opera Batak telah "mati", maka wajar jika nilai-nilai Kebatakan itu terlihat absurd penerapannya bagi generasi muda yang tidak mengenal Opera Batak.
***
(Nampaknya) Kita perlu menggeser makna "bagus" dan "keren" dari luar pada apa yang ada di kita, lokal.
Bukan karena terpaksa atau supaya terlihat keren, tapi karena (kita kini melihat) budaya kita memang keren dan bagus dalam arti sesungguhnya. Tidak berlebihan jika dibilang lebih keren dari beberapa yang lain.
Yang keren itu "Bahasa Batak, Busana Batak dan Adat Batak".
Dengan mengatakan kalimat itu, artinya kita sedang menegaskan rasa cinta pada diri sendiri.
Rasa cinta yang diperlukan di era ini, era yang memabukkan dan menyeragamkan masyarakat dengan budaya pop.
Kita tidak sadar sedang "dibaratkan" perlahan-lahan hingga ke akar budaya.
Lihatlah titik nol sejarah Batak tidak begitu terurus.
Apa yang kita lakukan terhadap budaya kita sendiri? Mengabaikannya dengan dalih para "pecinta budaya" akan mengurusnya? Oh tidak.
Tidak masuk akal jika orang Batak belajar mencintai budaya Batak itu sendiri karena memang sepantasnya dan sudah seharusnya mereka mencintainya karena itu identitasnya.
Dalam kaitannya dengan pendidikan di tanah Batak, secara subjektif saya sangat meyakini tidak lain tidak bukan, bahwa "berhentinya orang tua mewariskan tradisi adalah penyebab utama menurunnya prestasi orang Batak".
Catatan:
Pemimpin baru di tanah Batak perlu sekali menjadikan pelestarian budaya sebagai agenda prioritas.
