...
Sudah lama saya amati, kenapa para ayah kita sering hanya komunikasi seperlunya saja dengan kita sebagai anak-anaknya? Khususnya anak laki-laki. Apakah karena sesama lelaki? Hanya karena itu sajakah? Tentu bukan hanya saya saja yang penasaran dengan hal tersebut.
... Sependek amatan saya, dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan saya, pada umumnya, seorang among (ayah etnis Batak) jarang mengatakan "i love you" dan "terimakasih" pada isteri atau anak-anak mereka. Saya menyebutnya sebagai "kecanggungan komunikasi" antara orang tua (ayah) dengan anak. Amatan saya lebih fokus pada sosok para ayah karena sosok para ibu pada umumnya berinteraksi lebih intens dengan anak-anak mereka.
Berikut hipotesa yang saya himpun sejauh ini:
1. Sisa Budaya Patriarkis
Budaya patriarkis dalam etnis Batak yang paling jelas ditunjukkan oleh sistem pemargaan yang mengikuti garis ayah.
Selainnya dalam nilai-nilai lisan sehari-hari juga masih terlihat dominasi laki-laki.
Seperti pemberian panggoaran diutamakan dari nama anak atau cucu laki-laki, pembagian warisan didahulukan pada laki-laki, pemimpin acara adat diwajibkan laki-laki, porsi terbesar suatu pembagian lebih banyak pada laki-laki, dan masih banyak lagi.
Ekses budaya patriarkis tersebut adalah rasa superioritas pada diri para anak laki-laki terbangun hingga dewasa.
2. Karakter Individu
Dalam psikologi, setidaknya ada empat kacenderungan kepribadian manusia, kolerik, sanguin, plegma dan melankolik.
Dalam beberapa kondisi, kecenderungan kepribadian si ayah mempengaruhi komunikasi dalam keluarga.
3. Lingkungan
Dalam hierarki sosial masyarakat Batak sejak awal dipimpin oleh para raja.
Dari sejarah yang saya amati, seorang raja biasanya memiliki karakter kuat seperti ketegasan dan keadilan dalam mengatur keluarga dan warganya, yang akhirnya menjadi panutan yang berusaha ditiru masyarakat.
Pada titik tertentu, kondisi seperti ini membentuk sebuah paradigma masyarakat yang didikte oleh karakter para raja.
Kharisma dari ketegasan dan keadilan tersebut terbawa-bawa dalam kehidupan sehari-hari hingga kini.
Dugaan saya, itulah awalnya kenapa orang Batak pada umumnya memiliki karakter tegas dan adil. Terlepas dari beberapa anomali, sosok Batak yang terlibat kasus ketidakadilan.
4. Kebiasaan
Mengatakan "i love you" secara frontal memang soal kebiasaan, dan kebetulan budaya kita tidak biasa seperti itu.
Berbeda dengan kebudayaan beberapa negara lain, seperti misalnya Amerika, sebagaimana sering kita lihat lewat media, terbiasa atau spontan mengucapkannya.
Bukan hanya dalam mengutarakan "i love you" saja, bahkan untuk menyampaikan hal-hal biasa saja, sering para ayah seolah "meminjam" jasa para ibu untuk menyampaikannya pada anak-anak mereka.
5. Pengalaman Pribadi
Trauma masa lalu dengan perlakuan ayah, kehilangan figur ayah, rasa bersalah karena kesalahan tertentu dalam keluarga, keterbatasan fisik yang mempengaruhi kemampuan berbicara hingga warisan dari orang tua atau keluarga dengan karakter yang sama-sama canggung berkomunikasi dengan anak-anaknya.
6. Ekspektasi
Seorang ayah berharap keluarganya memahami apa yang utama dalam keluarga orang Batak, Hagabeon (beranak cucu), Hasangapon (terhormat), Hamoraon (berkecukupan dan kemakmuran), serta Tarbarita (tersohor).
Tingginya ekspektasi terhadap keempat tujuan tersebut cukup menyita perhatian si ayah dari "hal-hal sederhana" seperti komunikasi dengan anak.
Bahkan dalam beberapa situasi, para ayah sering merasa hanya komunikasi tentang "cita-cita besar" tersebutlah yang patut dibicarakan dalam keluarga.
7. Ekonomi
Satu lagi, kesibukan para ayah menafkahi keluarga cukup menyita waktu bahkan perhatian mereka dari anak-anak.
Pulang dari tempat kerja sudah lelah sampai di rumah maunya langsung istirahat. Kelihatan sepele, namun pada titik tertentu berakibat fatal, kecanggungan komunikasi.
8. Faktor Geografis
Sedikit banyak, akses keluar-masuk, ketersediaan media informasi dan frekuensi kedatangan orang luar ke dalam Desa memberi pengaruh.
Terlebih pada mereka yang secara aktif berinteraksi dengan pendatang, di mana orang luar yang datang berkomunikasi secara luwes dengan anak-anak mereka.
9. Dll
***
Kendati demikian, praksis cinta seorang among tidak dapat dipungkiri, hal itu terlihat jelas dari motto hidup orang Batak yang tertuang dalam lagu "anakhon hi do hamoraon di ahu (anak adalah harta terindah bagiku)".
Bukan sekedar cerita isapan jempol lagi seberapa berjibakunya orang tua menyekolahkan anak-anaknya.
Pekerjaan yang sulit dibayangkan sekali pun dilakukan. Sebuah karakter otentik tersendiri, prinsip yang mencerminkan tekad kuat.
Bukan pula perkara kurang romantis kalau ditarik ke arah romantisme.
Tidak diragukan lagi romantisme etnis Batak dari lagu-lagu Batak yang bahkan sudah menempatkan diri di kancah musik internasional seperti Butet, Alusi Au, Sinanggar Tullo, Aut Boi Nian, dll. Lain lagi romantisme yang tertuang dalam sastra Batak seperti umpasa dan umpama.
Namun perlu ditekankan, meski pun Batak patriarkis, perempuan memiliki posisi penting yang setara dengan laki-laki.
Hal ini tersirat secara tegas dalam filsafat Dalihan Natolu yang mengangkat suami si anak perempuan sebagai "raja ni boru" untuk mewakili si perempuan.
Dan catatan khusus, ada orang tua (ayah) dalam beberapa keluarga yang berkomunikasi luwes dengan anak-anak mereka sejak awal.
Sila ditambahi...
Horas...
***
Ilustrasi tidak memiliki hubungan dengan status, hanya karena suka warna langitnya 😁